have a nice read! thanks for viewing my blog! =)
Showing posts with label Life in Act. Show all posts
Showing posts with label Life in Act. Show all posts

Friday, December 28, 2012

Christmas Day in Papua


       Christmas morning, the sun shines on my head as I woke up with my sleepy eyes. The mountains view in Papua is so beautiful.  I can see the beach below as the waves hit the rock bay. The horizon seems so peaceful and blue.

In Papua, we have a tradition to visit our friends who celebrate Christmas, to greet them Merry Christmas and Happy Holiday. In the afternoon, we came to Mr. Fernando’s house. It was a small house, but cozy and warm. We ate Bakso Sapi  and cookies, it was delicious. We introduce ourselves as a new employee in BPKP Jayapura. He has been working in BPKP Jayapura for 13 years, and is going to move to BPKP Medan in the early January. After that, we went to some senior’s house to greet them and have some cookies and tea.



Last, but not least, we arrived at Mrs. Elisa’s house. It was a “ruko”, three stories high. Her house was minimalist but elegant. She has a beautiful Christmas tree in the living room. We chat and ate again. Although our stomach is quite full, we just could not resist the temptation of “Ayam Bumbu” she had prepared for us. Cookies, pudding, and cakes are everywhere as we taste bit by bit, but eventually got full.

Christmas in Jayapura was fun. It was a unique and unforgettable experience. Still, I wish next Christmas, I can spend it with my families and friends.

Monday, December 24, 2012

Papua, First Week



          It has been a week I have stayed at Jayapura. My friends and I are adjusting the habits and culture here. It is quite different from Jakarta. Usually in Jakarta, we never greet strangers, but here, we must say hello to strangers to show our respect to them.
Christmas is in 2 days. Children are running and playing firecracker. Christmas songs are sang almost everywhere. Houses decorated full of colorful lights. The atmosphere is different from Jakarta. This small city reminds me of a small city in California, Alhambra, although it is 180’ way different. Jayapura is a rough city; it is dangerous to out after 8pm. Many stories of murders are told, many drunken people often make problems, and also this is an endemic area of malaria.


This makes me wonder. Why would people risk their life to work and open a business here if this place was so dangerous? Is it because of money? If it is, then I start to think, is it worth it? Those risks I mention is exclude from airplane crash and sinking boats in means of transportation I must take every month. My job as an auditor needs to travel to cities around Jayapura to assist local government in their financial reports. Land transportation is not supported to travel to those cities.
I have only been here a week. There is nothing to worry, but be cautious is important. I have made my decision to start my career in BPKP at Jayapura. Whatever the risks are, I must face it like a man! There is a long way to go. May God be with me always.


Friday, December 21, 2012

Papua, Day 1


Pagi – pagi pukul 06.00 WIT, saya bersama 14 calon auditor muda BPKP tiba di Bandara Sentani, Jayapura. Kami checkout dari bandara dan memerlukan waktu sekitar 2jam untuk mengambil bagasi, karena bagasi kami dimasukkan kedalam perut pesawat yang lain. Setelah kami checkout, kami masih menunggu satu teman kami untuk tiba di bandara, dia memakai pesawat yang tiba pukul 09.40 WIT. Saya mengamati bahwa masyarakat di Jayapura sering mengunyah Pinang, yang akan membuat mulut anda merah, semerah darah. Bahkan ada tempat sampah khusus untuk meludah sisa kunyahan pinang. Tak lama setelah teman kami hadir, kami dijemput oleh senior-senior kami.

Perjalanan dari Bandara Sentani menuju Jayapura memakan waktu kira-kira 1jam.Tak diduga, Jayapura pun bias mengalami kemacetan. Gunung-gunung menjulang tinggi dan matahari menyinari bumi Papua dengan sangat panas. Perjalanan di Papua tanpa kendaraan akan sangat menyulitkan. Setiba kami di guesthouse, kami beristirahat dan mandi, menyegarkan jasmani kami kembali.

Pada pukul 03.00 WIT, kami bersiap-siap menemui Kepala Kantor BPKP Perwakilan Provinsi Papua. Orang-orang kantor terlihat ramah dan hangat, kami disambut dengan tangan terbuka. Kantor BPKP Papua berada cukupjauh dari Kota Jayapura, cukup tinggi di daerah pegunungan. Kami  dapat melihat garis pantai Samudera Pasifik dan gunung-gunung dari halaman kantor kami.

Malam pun tiba, kami pergike Kota untuk membeli kasur dan makan malam. Harga kasur dan makanan disini cukup mahal, nasi goring seharga 30k. Ini merupakan malam pertama saya di Jayapura. Semoga hari esok dapat menjadi lebih baik. =)

Tuesday, April 17, 2012

Khayangan Estate - Bali


    The opportunity to be in Eka & Cathy’s Private Wedding was just “WOW”!  This is a once in a lifetime chance I was given. Unfortunately, I came there not to have fun and drink all night. I joined Multi Kreasi Enterprise and work as a wedding organizer. These are some pictures in Khayangan Estate which I took before the wedding start.
 Main entrance Khayangan Estate


Sea view

    This is my first time, working as a Wedding Organizer in such a big event. I was nervous, scared to make any mistake or clumsy actions. The wedding started in the evening hosted by MC Sarah Sehan, intertained by Soul Mate, Ridho Irama, etc. At 10 P.M. the wwedding was over, but continued by an “After Party” session. Here, guests can drink and dance all night. Even the WO was invited to join the party. I was so tempted to drink all night, beverages and drinks are free flow nonstop! Especially, you are in Bali! Suddenly my conscious pop out and remind me that I’m still working as a WO. I reconsider my thoughts and decided just to have a glass or two. Not too much, because after the party ended, I still got a job to do.

Cheers!


Team leader

    In Bali, MKE didn’t have time to enjoy Bali. We work the whole day and night with little of rest. Although I’m very exhausted, I feel happy. It was a wonderful experience to participate MKE attending  Eka & Cathy’s wedding and “after party” all at once. Just beautiful!

Eka & Cathy Matrimony


Novotel 
  For the first time in my life, on April 12th, I went to Bali. It was 8 A.M. and I was sitting in the airport lobby waiting for my departure. I was very excited. To join Multi Kreasi Enterprise Wedding Organizer participating in Eka & Cathy wedding has never cross my mind. I met many friends in MKE with various characters and behavior. All of them are nice and friendly. 



WO Team
  In Bali, MKE stayed at Novotel and Grand Hyatt. The team was divided into groups so that we can work effective and efficiently. I was assigned in the “church” team. We coordinate with the local priest, altar services, and people in Fransiscus  Xaverius Church to give instruction and work together.











The holy matrimony mass was held in Fransicus Xaverius Church, Kuta in April 14th. The church is so beautiful. Decoration of flowers was everywhere. I was amazed!
 Here are some photos of St. Fransicus Xaverius Church - Kuta.


Before the Holy Matrimony


Book

Inside St. FX Church




After the Holy Matrimony


    There was 5 bishops, 11 priests, and 9 altar boys attended, include Mgr. DR. Silvester - Denpasar’s Bishop. These pictures below are some preparation before the ceremony begin. Some of the altar boys are from Kuta, they are friendly and funny. Very nice people!!





The Holy Matrimony began at 10 A.M., crowded with families and friends from both Eka & Cathy side. Cathy is indeed beautiful with her white wedding dress. The atmosphere was just magnificent. Here are some shots taken by professionals during the Holy Matrimony.


                            
Blessing




 



 The Photographer should tell me to smile -____-

Mr. & Mrs. Suganda (right) with Cathy's parents (left)

Man of Honor (left) with Bridesmaid (right)


Eka,"Benerin dasi dlu ah."
    

=)




HAPPY WEDDING 
EKA & CATHY


Saturday, October 22, 2011

Yu Yuan Gadis Kecil Berhati Malaikat


Dia yang berjuang hidup dari Leukimia Ganas. Setelah merasa tidak dapat disembuhkan lagi, ia rela melepaskan segala-galanya dan menyumbangkan untuk anak-anak lain yang masih punya harapan. Sungguh .. tak abis kata2 untuk Yu Yuan.  Kisah ini tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selam delapan tahun. Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya adalah “saya pernah datang dan saya sangat penurut”. Anak ini rela melepasakan   pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dia membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian,yang  dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya. Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya.
A. Kisah Yu Yuan
Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. . Papanya berumur 30     tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu,  kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini  ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya.
Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana  papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis,  20 November jam 12.   Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “saya makan apa, Jika kamu ikut saya apa yang kita makan”. Kemudian, papanya memberikan dia nama Yu Yan .

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras) Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa.
Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.
Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput.
Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.
Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya.  Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada  papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal   yang susah untuk menguji papanya. Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.
B. Yu Yuan mulai menderita Leukimia
Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengeluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa.
Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk  menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terken Leukimia ganas.
Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anak yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang ke sanak saudara dan teman dan ternyata,uang yang terkumpul sangatlah sedikit.
Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.  Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus.
Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. ”Papa saya ingin mati”.  Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan,”Kamu berumur 8 tahun kenapa mau mati”. “Saya adalah anak yang dipungut, semuaorang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini,biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”
Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak Mengenal huruf, menandatangan surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri.
Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya.. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa  merindukan saya lihatlah melihat foto ini”. Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemaniYu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru.. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya.Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya jug tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.
C. Kisah sakitnya Yu yuan mengukir dunia maya.
Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini.Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang. Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang. Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan, tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.
Ada seorang teman di-email bahkan menulis: “Yu Yuan anakku Yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit.Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.
D. Yu Yuan punya harapan kembali
“Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota . Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah.
Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan  pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan  dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak tberteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu.Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung. Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab,”Anak yang baik”. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali.. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos  sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.
Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah.Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.
E. Akhir Riwayat Yu yuan
Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan:”Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati”. Yu Yuan kemudia berkata :”Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati”. Wartawan itupun menjawab,”Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante adalah surat wasiat saya.” Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.
Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,・Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar.”Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh”.Surat wasiat ini
Membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.
Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan.. Pada tanggal 22 agustus,karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat.
Dokter dan para perawat pun ikut menangis.
Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa  menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air. Sungguh telah pergi kedunia lain.
Dikecamatan She Chuan,sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung.Ada seorang pemuda berkata dengan pelan ”Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah・demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut..
Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa-mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.
Di depan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa.
Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.
F. Wasiat Yu Yuan
Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut
disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.
Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang  mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. “Saya telah  menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan, kamu pasti sedang melihat kami diatas sana . Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.
G.Kesimpulan:
Demikianlah sebuah kisah yang sangat menggugah hati kita. Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan Dunia. Walaupun hidup serba kekurangan, Dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan, perhatian kepada orang yangmembutuhkan. Pribadi dan hati seperti inilah yang dinamakan pribadi seorang Pengasih.